Selasa, 04 Oktober 2016

lilis







BAB I
PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang

       Di Indonesia, padi merupakan komoditas utama dalam menyokong pangan masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang meningkat. Komoditas padi memiliki peranan pokok sebagai pemenuhan kebutuhan pangan. Kebutuhan bahan pangan beras di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan laju pertambahan penduduk. Akan tetapi, laju peningkatan kebutuhan beras itu tidak sebanding dengan laju penambahan produksinya di lapangan sehingga terjadi kekurangan setiap tahun. Indonesia, pada tahun 1998 pernah sebagai pengimpor beras terbesar di Asia Tenggara sebesar 5,9 juta ton atau separuh dari produksi dunia yang ada di pasaran waktu itu yaitu 12 juta ton (Sumodiningrat, 2001). Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan impor beras tersebut dengan cara pengurangan volume impor dan pada tahun 2006 menjadi sebesar 210 ribu ton (Departemen Pertanian, 2006 ). Melihat kecenderungan dan fluktuasi besar nya impor beras setiap tahunnya menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan daya hasil tanaman padi per hektarnya cukup besar. Kesuburan tanah sangat mempengaruhi hasil produsi padi di Indonesia. Pada umumnya, padi pada kondisi jarak tanam yang sempit akan mengalami penurunan kualitas pertumbuhan, seperti jumlah anakan dan malai lebih sedikit, panjang malai lebih pendek dan tentunya jumlah gabah per malai berkurang di bandingkan pada kondisi jarak tanam yang potensial. Selama ini usaha petani yang sering dilakukan petani untuk meningkatkan produksi adalah dengan pemberian pupuk buatan dalam jumlah yang cenderung meningkat, pengembalian bahan organik seperti jerami. Salah satu upaya peningkatan produktivitas tanaman padi adalah dengan mencukupkan kebutuhan haranya. Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sebab unsur hara yang terdapat di dalam tanah tidak selalu mencukupi untuk memacu pertumbuhan tanaman secara optimal  Selain dengan teknologi penyuluhan sistem tanam padi merupakan salah satu teknlogi dengan menetukan jarak tanam, namun untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena jika diperhatikan masih banyak petani yang belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya.  Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya. Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian 4 Laporan Tugas Akhir Program Studi Budidaya Tanaman Pangan ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi. Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong.


1.2        Identifikasi Masalah

Dari pembahasan pada latar belakang di atas dapat di identifikasikan bahwa      sudah banyak para petani yang menanam padi menggunakan sistim tanam jajar legowo.

1.3       Rumusan Masalah

Berdasakan pada identifikasi masalah tersebut, maka dirumuskan sebagai berikut:

1.         Bagaimana sikap petani di Desa Margo Mulyo, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat terhadap sistim tanam jajar legowo ?
2.         Apakah sistim tanam jajar legowo dapat meningkatkan produksi padi di Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat ?

1.4       Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian adalah :

1.      Untuk mengetahui sikap petani terhadap teknologi jajar legowo di  Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat ?
2.      Untuk mengetahui apakah sistim tanam jajar legowo dapat meningkatkan produksi padi di Desa Margo Mulyo, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat ?





1.5       Manfaat Penulisan

Karya tulis ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, antara lain :

1.      Menambah wawasan tentang penting nya sistim tanam jajar legowo.
2.      Menumbuhkan minat pembaca untuk mengtahui tentang sistim tanam jajar legowo.

1.6       Ruang Lingkup

Dalam ruang lingkup ini mempermasalah kan tentang bagaimana sikap petani di Desa Margo Mulyo, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat.

























BAB II
LANDASAN TEORI


2.1  A. Peningkatan

1.      Pengertian peningkatan menurut Adi S, peningkatan berasal dari kata tingkat yang berarti lapis atau lapisan dari sesuatu yang kemudian membentuk susunan. Jadi peningkatan adalah usaha yang membuat sesuatu menjadi lebih baik dari sebelumnya (www.duniapelajar.com).
2.      Pengertian peningkatan menurut ahli yang bernama Moeliono peningkatan adalah sebuah cara atau usaha yang mendapatkan keterampilan atau kemampuan menjadi lebih baik (www.duniapelajar.com).
3.      Secara umum peningkatan merupakan upaya untuk menambah derajat, tingkat, dan kualitas maupun kuantitas. Peningkatan juga dapat berarti penambahan keterampilan kemampuan agar menjadi lebih baik. Selain itu, peningkatan juga berarti pencapaian dalam proses, ukuran, sifat, hubungan, dan sebagainya (www.duniapelajar.com).

2.2  B.  Produksi

1.      Pengertian produksi menurut ahli yang bernama Magfuri, produksi adalah mengubah produksi barang yang memiliki kualitas untuk memenuhi kebutuhan manusia (www.jelajahinternet.com).

2.      Pengertian produksi menurut ahli yang bernama Sugiarto, produksi adalah kegiatan yang mengubah input menjadi output. kegiatan ekonomi biasanya dinyatakan dalam fungsi produksi (www.jelajahinternet.com).
3.      Secara umum produksi merupakan sebuah perbuatan atau kegiatan yang tidak hanya mencakup pembuatan barang-barang saja, tetapi dapat juga membuat atau menciptakan jasa pelayanan, seperti acara hiburan, penulisan buku-buku cerita dan pelayanan jasa keuangan (www.jelajahinternet.com).

2.3  C.  Padi

1.      Pengertian padi

Padi merupakan tumbuhan yangg menghasilkan beras, termasuk jenis Oryza (Oryza sativa L.) adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga ( genus ) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.




2.      Klasifikasi

Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:

a. Divisi       :Spermatophyta
b. Subdivisi :Angiospermae
c. Kelas        :Monotyledonae
d. Keluarga  :Gramineae(Poaceae)
e. Genus       :Oryza
f. Spesies      : Oryza spp.

3.      Ciri-Ciri Umum

       Dalam suku padi-padian atau Poaceae ( Sinonim : Graminae atau Glumiflorae ). Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah regak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hamper bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospremium yang dimakan orang.







4.      Jenis Tanaman Padi

Tanaman padi dibedakan dalam 3 jenis varietas:

1.       Varietas Padi Hibrida: Varietas Padi Hibrida merupakan varietas padi yang dihasilkan dari persilangan antara dua atau lebih populasi suatu spesies yang berbeda genetiknya (Indukan dan Keterunan). Varietas padi hibrida memiliki pro kontra dikalangan petani padi mengenai keunggulan dan kelemahan padi hibrida tersebut. Padi hibrida memiliki kelebihan; mampu menghasilkan 10-12 ton/hektar, tumbuhnya  padi lebih seragam dan beras yang dihasilkan lebih pulen dan wangi  akan tetapi padi hibrida memiliki sisi kelemahan disamping benih tersebut mahal (40.000-45.000/kg) sedangkan varietas lokal hanya (5000-10000/kg), terlebih  benih padi hibrida tersebut  untuk satu kali penggunaan kalau pun bisa tanam produksi padi tersebut turun dengan drastis. Contoh Padi Hibrida antara lain : Intani 1 dan Intani 2, Adirasa 1, Adirasi 64, PP1, H1, Rokan, SL 8 dan Sl 11, Segera Anak, Sembada B3 dan Sembada B9.

2.       Varietas Padi Unggul: Varietas Padi Unggul merupakan varietas padi yang diperoleh dari persilangan varietas unggul padi lokal untuk menghasilkan varietas padi unggulan,misalnya varietas padi IR dan Ceheran yang dilakukan oleh bapak Sutikno Efendi di Bojonegoro. Keunggulan varietas padi lokal antara lain; benih tersebut mampu menghasilkan 8-11 ton/hektar tidak kalah dengan varietas padi hibrida, benih padi tersebut bisa di gunakan sebagai bahan tanam kembali tanpa mengurangi nilai produksi padi tersebut, harga benih sangat terjangkau (5000-10.000/kg), tahan terhadap kekeringan dan beras yang dihasilkan lebih pulen serta wangi. Contoh Padi Varietas Unggul: Ciherang, IR-64, Ciliwung, Cobogo, Cisadane dll.



3.       Varietas Padi Lokal: Varietas padi lokal merupakan varietas padi yang beradaptasi lama disuatu daerah yang memiliki nilai keunggulan dan kelemahan tertentu sehingga padi tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda disetiap daerah nya. Contoh Padi Varietas Lokal: Dharma ayu, Indramayu dan Gropak (Kulon Progo-Jogya), Simenep, Srimulih dan Andel Jaran. (www.seputarpertanian.com).


2.4  D.  Jajar Legowo

       Istilah jajar legowo diambil dari bahasa Jawa yang secara harfiah tersusun dari kata ‘lego’ (lega) dan ‘dowo’ (panjang) yang secara kebetulan sama dengan nama orang yang memperkenalkan cara tanam ini. Jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara, Provinsi Jawa Tengah, bernama Legowo yang kemudian ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi. Bisa dijelaskan  secara umum bahwa sistem tanam jajar legowo adalah upaya meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong, di mana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi yang terdapat dalam paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Seperti diketahui bahwa tanaman padi yang berada dipinggir memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik dibanding tanaman padi yang berada di barisan tengah sehingga memberikan hasil produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena tanaman yang berada di pinggir akan memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak (efek tanaman pinggir). ( http://agroplus.co.id/ )
Tipe sistem jajar Legowo

1.      Jajar Legowo 2:1 - Setiap dua baris diselingi satu baris yang kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan pada jarak tanam dalam baris yang memanjang di perpendek menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya.
2.      Jajar Legowo 3:1 –  Setiap tiga baris tanaman padi di selingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya.
3.      Jajar Legowo 4:1  –  setiap empat baris tanaman padi diselingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya.

(http://www.informasipertanian.com/)

Karya ilmiah ku







BAB I
PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang

       Di Indonesia, padi merupakan komoditas utama dalam menyokong pangan masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang meningkat. Komoditas padi memiliki peranan pokok sebagai pemenuhan kebutuhan pangan. Kebutuhan bahan pangan beras di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan laju pertambahan penduduk. Akan tetapi, laju peningkatan kebutuhan beras itu tidak sebanding dengan laju penambahan produksinya di lapangan sehingga terjadi kekurangan setiap tahun. Indonesia, pada tahun 1998 pernah sebagai pengimpor beras terbesar di Asia Tenggara sebesar 5,9 juta ton atau separuh dari produksi dunia yang ada di pasaran waktu itu yaitu 12 juta ton (Sumodiningrat, 2001). Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan impor beras tersebut dengan cara pengurangan volume impor dan pada tahun 2006 menjadi sebesar 210 ribu ton (Departemen Pertanian, 2006 ). Melihat kecenderungan dan fluktuasi besar nya impor beras setiap tahunnya menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan daya hasil tanaman padi per hektarnya cukup besar. Kesuburan tanah sangat mempengaruhi hasil produsi padi di Indonesia. Pada umumnya, padi pada kondisi jarak tanam yang sempit akan mengalami penurunan kualitas pertumbuhan, seperti jumlah anakan dan malai lebih sedikit, panjang malai lebih pendek dan tentunya jumlah gabah per malai berkurang di bandingkan pada kondisi jarak tanam yang potensial. Selama ini usaha petani yang sering dilakukan petani untuk meningkatkan produksi adalah dengan pemberian pupuk buatan dalam jumlah yang cenderung meningkat, pengembalian bahan organik seperti jerami. Salah satu upaya peningkatan produktivitas tanaman padi adalah dengan mencukupkan kebutuhan haranya. Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sebab unsur hara yang terdapat di dalam tanah tidak selalu mencukupi untuk memacu pertumbuhan tanaman secara optimal  Selain dengan teknologi penyuluhan sistem tanam padi merupakan salah satu teknlogi dengan menetukan jarak tanam, namun untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena jika diperhatikan masih banyak petani yang belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya.  Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya. Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian 4 Laporan Tugas Akhir Program Studi Budidaya Tanaman Pangan ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi. Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong.


1.2        Identifikasi Masalah

Dari pembahasan pada latar belakang di atas dapat di identifikasikan bahwa      sudah banyak para petani yang menanam padi menggunakan sistim tanam jajar legowo.

1.3       Rumusan Masalah

Berdasakan pada identifikasi masalah tersebut, maka dirumuskan sebagai berikut:

1.         Bagaimana sikap petani di Desa Margo Mulyo, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat terhadap sistim tanam jajar legowo ?
2.         Apakah sistim tanam jajar legowo dapat meningkatkan produksi padi di Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat ?

1.4       Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian adalah :

1.      Untuk mengetahui sikap petani terhadap teknologi jajar legowo di  Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat ?
2.      Untuk mengetahui apakah sistim tanam jajar legowo dapat meningkatkan produksi padi di Desa Margo Mulyo, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat ?





1.5       Manfaat Penulisan

Karya tulis ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, antara lain :

1.      Menambah wawasan tentang penting nya sistim tanam jajar legowo.
2.      Menumbuhkan minat pembaca untuk mengtahui tentang sistim tanam jajar legowo.

1.6       Ruang Lingkup


Dalam ruang lingkup ini mempermasalah kan tentang bagaimana sikap petani di Desa Margo Mulyo, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Kamis, 22 September 2016

karyaa

BAB 11
LANDASAN TEORI
2.1       A.  Pengertian Peningkatan
                                 1.   Pengertian peningkatan menurut seorang ahli bernama Adi   S, Peningkatan berasal dari kata tingkat. Yang berarti lapis atau         lapisan dari sesuatu yang kemudian membentuk susunan.               Peningkatan adalah usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih      baik daripada sebelumnya. Suatu usaha untuk tercapainya suatu            peningkatan biasanya diperlukan perencanaan dan eksekusi           yangbaik.Perencanaan dan eksekusi ini harus saling berhubungan dan tidak menyimpang dari tujuan yang   telah    ditentukan. Sedangkan menurut ahli bernama Moeliono      peningkatan adalah Sebuah cara atau usaha yang            dilakukan        untuk mendapatkan keterampilan atau kemampuan           menjadi           lebih baik.

                                                         Secara umum, peningkatan merupakan upaya untuk menambah                               derajat, tingkat, dan      kualitas maupun kuantitas. Peningkatan juga                         dapat berartipenambahan keterampilan dan kemampuan agar                                 menjadi lebih baik. Selain itu, peningkatan juga berarti                                             pencapaian dalam proses, ukuran, sifat, hubungan dan                                              sebagainya.

karya

Menurut seorang ahli bernama Adi S, peningkatan berasal dari kata tingkat. Yang berarti lapis atau lapisan dari sesuatu yang kemudian membentuk susunan. Tingkat juga dapat berarti pangkat, taraf, dan kelas. Sedangkan peningkatan berarti kemajuan. Secara umum, peningkatan merupakan upaya untuk menambah derajat, tingkat, dan kualitas maupun kuantitas. Peningkatan juga dapat berartipenambahan keterampilan dan kemampuan agar menjadi lebih baik. Selain itu, peningkatan juga berarti pencapaian dalam proses, ukuran, sifat, hubungan dan sebagainya.
Kata peningkatan biasanya digunakan untuk arti yang positif. Contoh penggunaan katanya adalah peningkatan mutu pendidikan, peningkatan kesehatan masyarakat, serta peningkatan keterampilan para penyandang cacat. Peningkatan dalam contoh diatas memiliki arti yaitu usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Suatu usaha untuk tercapainya suatu peningkatan biasanya diperlukan perencanaan dan eksekusi yang baik. Perencanaan dan eksekusi ini harus saling berhubungan dan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditentukan.

Pengertian Peningkatan Menurut Para Ahli

Kata peningkatan juga dapat menggambarkan perubahan dari keadaan atau sifat yang negatif berubah menjadi positif. Sedangkan hasil dari sebuah peningkatan dapat berupa kuantitas dan kualitas. Kuantitas adalah jumlah hasil dari sebuah proses atau dengan tujuan peningkatan. Sedangkan kualitas menggambarkan nilai dari suatu objek karena terjadinya proses yang memiliki tujuan berupa peningkatan. Hasil dari suatu peningkatan juga ditandai dengan tercapainya tujuan pada suatu titik tertentu. Dimana saat suatu usaha atau proses telah sampai pada titik tersebut maka akan timbul perasaan puas dan bangga atas pencapaian yang telah diharapkan.
Seperti telah disebutkan di awal, peningkatan dapat berarti pula menaikkan derajat sesuatu atau seseorang, serta dapat pula berarti mempertinggi dan memperhebat. Peningkatan yang memiliki arti menaikkan derajat adalah dalam penggunaannya dalam kalimat “peningkatan jabatan dari staff menjadi kepala bagian”. Untuk peningkatan yang berarti mempertinggi, contoh penggunaan kalimatnya adalah seperti “Peningkatan standar kepuasan pelanggan sangat membebani produsen”. Sedangkan untuk peningkatan yang berarti memperhebat, contoh kalimatnya adalah “Perusahaan itu sedang gencar-gencarnya melakukan peningkatan teknologi agar keuntungan yang didapat lebih banyak”.

Rabu, 21 September 2016

kartul

BAB I
PENDAHULUAN



1.1    Latar Belakang

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan penting yang telah menjadi makanan pokok lebih dari setengah penduduk dunia.  Di Indonesia, padi merupakan komoditas utama dalam menyokong pangan masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang meningkat. Komoditas padi memiliki peranan pokok sebagai pemenuhan kebutuhan pangan. Kebutuhan bahan pangan beras di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan laju pertambahan penduduk. Akan tetapi, laju peningkatan kebutuhan beras itu tidak sebanding dengan laju penambahan produksinya di lapangan sehingga terjadi kekurangan setiap tahun. Indonesia, pada tahun 1998 pernah sebagai pengimpor beras terbesar di Asia Tenggara sebesar 5,9 juta ton atau separuh dari produksi dunia yang ada di pasaran waktu itu yaitu 12 juta ton (Sumodiningrat, 2001). Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan impor beras tersebut dengan cara pengurangan volume impor dan pada tahun 2006 menjadi sebesar 210 ribu ton (Departemen Pertanian, 2006 ). Melihat kecenderungan dan fluktuasi besarnya impor beras setiap tahunnya menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan daya hasil tanaman padi per hektarnya cukup besar. Kesuburan tanah sangat mempengaruhi hasil produsi padi di Indonesia. Pada umumnya, padi pada kondisi jarak tanam yang sempit akan mengalami penurunan kualitas pertumbuhan, seperti jumlah anakan dan malai lebih sedikit, panjang malai lebih pendek dan tentunya jumlah gabah per malai berkurang dibandingkan pada kondisi jarak tanam yang potensial (AAK, 1990).

Selama ini usaha petani yang sering dilakukan petani untuk meningkatkan produksi adalah dengan pemberian pupuk buatan dalam jumlah yang cenderung meningkat, pengembalian bahan organik seperti jerami. Salah satu upaya peningkatan produktivitas tanaman padi adalah dengan mencukupkan kebutuhan haranya. Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sebab unsur hara yang terdapat di dalam tanah tidak selalu mencukupi untuk memacu pertumbuhan tanaman secara optimal  Selain dengan teknologi penyuluhan sistem tanam padi merupakan salah satu teknlogi dengan menetukan jarak tanam, namun untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena jika diperhatikan masih banyak petani yang belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya.  Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya. Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian 4 Laporan Tugas Akhir Program Studi Budidaya Tanaman Pangan ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi. Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong.




1.2      Identifikasi Masalah

            Dari pembahasan pada latar belakang di atas dapat di identifikasikan bahwa apakah masih ada petani padi di Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat yang menanam padi tidak menggunakan sistim tanam jajar legowo.

1.3       Rumusan Masalah

Berdasakan pada identifikasi masalah tersebut, maka dirumuskan sebagai berikut.

1.   Bagaimana sikap petani terhadap teknologi jajar legowo di Desa Margo                 Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat?
2.   Faktor – faktor apa yang menyebabkan petani tidak menerapkan teknologi jajar legowo di Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat?
3.   Apakah sistim tanam jajar legowo dapat meningkatkan produksi padi di Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat?

1.4       Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian adalah :
1.   Untuk mengetahui sikap petani terhadap teknologi jajar legowo di  Desa                                                                                                                                                               Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat?
2.   Untuk mengetahui faktor – faktor yang menyebabkan petani tidak menerapkan    teknologi jajar legowo di Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat?
3.   Untuk mengtahui apakah sistim tanam jajar legowo dapat meningkatkan produksi padi di Desa Margo Mulyo Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat?
1.5       Manfaat Penulisan

            Karya tulis ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, antara lain :

1.      Menambah wawasan tentang penting nya sistim tanam jajar legowo.
2.      Mengetahui bagaimana cara penanaman sistim jajar legowo dengan baik dan benar.
3.      Menumbuhkan minat pembaca untuk mengtahui tentang sistim tanam jajar legowo.

1.6       Ruang Lingkup


            Dalam ruang lingkup ini mempermasalahkan tentang masih ada petani yang belum menerapkan sistim tanam jajar legowo dan apakah sistim tanam jajar legowo dpat meningkatkan pruduksi padi.

Selasa, 20 September 2016

lllllllll



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan penting yang telah menjadi makanan pokok lebih dari setengah penduduk dunia.  Di Indonesia, padi merupakan komoditas utama dalam menyokong pangan masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang meningkat. Komoditas padi memiliki peranan pokok sebagai pemenuhan kebutuhan pangan. Kebutuhan bahan pangan beras di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan laju pertambahan penduduk. Akan tetapi, laju peningkatan kebutuhan beras itu tidak sebanding dengan laju penambahan produksinya di lapangan sehingga terjadi kekurangan setiap tahun. Indonesia, pada tahun 1998 pernah sebagai pengimpor beras terbesar di Asia Tenggara sebesar 5,9 juta ton atau separuh dari produksi dunia yang ada di pasaran waktu itu yaitu 12 juta ton (Sumodiningrat, 2001). Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan impor beras tersebut dengan cara pengurangan volume impor dan pada tahun 2006 menjadi sebesar 210 ribu ton (Departemen Pertanian, 2006 ). Melihat kecenderungan dan fluktuasi besarnya impor beras setiap tahunnya menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan daya hasil tanaman padi per hektarnya cukup besar.
Kesuburan tanah sangat mempengaruhi hasil produsi padi di Indonesia. Pada umumnya, padi pada kondisi jarak tanam yang sempit akan mengalami penurunan kualitas pertumbuhan, seperti jumlah anakan dan malai lebih sedikit, panjang malai lebih pendek dan tentunya jumlah gabah per malai berkurang dibandingkan pada kondisi jarak tanam yang potensial (AAK, 1990).
Selama ini usaha petani yang sering dilakukan petani untuk meningkatkan produksi adalah dengan pemberian pupuk buatan dalam jumlah yang cenderung meningkat, pengembalian bahan organik seperti jerami. Salah satu upaya peningkatan produktivitas tanaman padi adalah dengan mencukupkan kebutuhan haranya. Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sebab unsur hara yang terdapat di dalam tanah tidak selalu mencukupi untuk memacu pertumbuhan tanaman secara optimal  Selain dengan teknologi penyuluhan sistem tanam padi merupakan salah satu teknlogi dengan menetukan jarak tanam, namun untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena jika diperhatikan masih banyak petani yang belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya.  Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya, (BPTP Jambi, 2013). Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini.

Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian 4 Laporan Tugas Akhir Program Studi Budidaya Tanaman Pangan ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi. Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi yang terdapat dalam paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Seperti diketahui bahwa tanaman padi yang berada dipinggir memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik dibanding tanaman padi yang berada di barisan tengah sehingga memberikan hasil produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena tanaman yang berada dipinggir akan memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak (efek tanaman pinggir).


1.2      Rumusan Masalah
Berdasakan pada latar belakang tersebut, bagaimana sikap petani terhadap teknologi jajar legowo di Desa Margo Mulyo maka dirumuskan seperti berikut.
1.2.1  Bagaimana sikap petani terhadap teknologi jajar legowo pada Desa Tunjung Tirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang ?
1.2.2  Faktor – faktor apa yang menyebabkan petani tidak menerapkan teknologi jajar legowo pada Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang ?
1.2.3  Bagaimana rancangan penyuluhan pertanian terhadap petani untuk menerapkan teknogi jajar legowo pada Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang ?